Showing posts with label biokimia. Show all posts
Showing posts with label biokimia. Show all posts

Sunday, 26 January 2014

Urin (part 3)


Macam-macam Pemeriksaan 
1.    Derajat Keasaman (pH)
    Pengamatan ini digunakan kertas lakmus biru dan merah yang dicelupkan pada bahan.
Dimana  kertas lakmus merupakan indikator penentuan asam dan basa pada suatu bahan. Lakmus yang berubah warna menjadi merah, menunjukkan bahan tersebut bersifat asam, sedangkan yang berubah menjadi warna biru, bersifat basa. Derajat keasaman bahan dapat diamati dengan kertas universal yang dicelupkan pada bahan.
2. Uji benedict semikuantitatif
Prinsip kerja dari uji benedict semi kuantitatif ini adalah pereaksi benedict yang mengandung kuprisulfat dalam suasana basa akan tereduksi oleh gula yang menpunyai gugus aldehid atau keton bebas (misal oleh glukosa). Dalam suasana Alkalis sakarida akan membentuk enidid yang mudah teroksidasi. Semua monosakarida dan diskarida kecuali Sukrosa dan trekalosa akan bereaksi positif bila dilakukan uji Benedict. Larutan-larutan tembaga yang alkalis bila direduksi oleh karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan memebentuk cupro oksida (Cu2O) yang berwarna hijau merah orange atau merah bata dan adanya endapan merah bata pada dasar tabung reaksi.
Normalnya glukosa tidak ada atau ada tapi dalam jumlah yang sangat kecil di dalam urin. Ketika tingkat glukosa dalam darah in melebihi batasan gula ginjal (160-180 mg/dl) maka glukosa mulai nampak dalam urin. Kehadiran glukosa dalam urin (glucosuria) merupakan indikasi adanya penyakit diabetes mellitus (Anonim, 2012)

3. Uji Heller
Uji ini dilakukan dengan mencampurkan bahan dengan HNO3 pekat sehingga hasilnya akan terbentuk cincin yang berwarna putih pada permukaan larutan. Protein jika terkena asam pekat (HNO3) akan terjadi denaturasi protein di permukaan, tetapi jika berlangsung lama, denaturasi akan berlangsung terus-menerus sampai cincin putih menghilang.
4.    Uji Koagulasi panas
Uji ini dapat digunakan untuk menentukan adanya protein secara kualitatif dan cepat. Protein akan terkoagulasi akibat panas.
5. Uji Gerhardt
Uji ini didasarkan pada reaksi antara asam aseto asetate dan ferri klorida yang menyusun zat berwarna seperti anggur (warna merah coklat). Asam aseto asetat sampai pengenceran 1:1000 dapat dinyatakan oleh reaksi ini (jauh kurang peka dari reaksi rothera), sedangkan acetone dan asam beta hidroksibutirat tidak bereaksi.
Reaksi yang sebenarnya terjadi sebenarnya belum diketahui, mungkin terjadi oksidasi aseto asetat oleh FeCl3.
6. Uji Rothera
Na-nitropusspid ( Na-nitroferisianida) dalam suasana asam akan pecah menjadi Na4Fe(CN)6-NaNO2 dan Fe(OH)3 yang merupakan oksidator kuat. Aseto asetat dan aseton akan dioksidasi dan membentuk kompleks berwarna merah jingga sampai ungu. Agar kompleks ini stabil , diperlukan larutan penyangga, yaitu : (NH4)2SO4
77.      Percobaan Kreatinin Urin
Reaksi antara kreatinin dengan pikrat dalam suasana basa, membentuk kompleks kreatinin pikrat berwarna jingga. Metode ini didasarkan pada pembentukan senyawa berwarna merah–oranye yang terjadi antara asam pikrat dengan kreatinin dalam suasana basa (Siangproh et al.,2009).
88.      Pemeriksaan Urobilinogen
Urobilinogen dengan para-aminobenzaldehide dalam suasana asam akan terbentuk senyawa azo yang berwarna merah. Dalam keadaan normal kadar urobilinogen berkisar antara 0,1 - 1,0 Ehrlich unit per dl urin. Peningkatan ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran empedu atau proses hemolisa yang berlebihan di dalam tubuh.
99.      Uji Fehling
Prinsip uji fehling yaitu menggunakan gugus aldehid pada gula untuk mereduksi senyawa (kupro sulfat) Cu2SO4 menjadi Cu2O (endapan merah bata) setelah dipanaskan dalam suasana basa.

Urin (part 2)

B.     Ginjal
Ginjal merupakan organ ekskresi yang utama, berjumlah sepasang, dan terdapat dalam rongga perut didekat tulang-tulang pinggang. Berbentuk seperti kacang ercis dengan panjangnya lebih kurang 10 cm. fungsi utama ginjal yaitu menyaring darah hingga menghasilkan urin. Didalam urin terdapat zat sisa atau berlebih yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh, misalnya protein-protein asing yang masuk kedalam tubuh, zat-zat hasil katabolisme (seperti urea, asam urat), bermacam garam, gula darah yang melebihi batas normal.
Selain itu ginjal juga berfungsi sebagai organ homeostasis, yaitu organ yang berfungsi menjaga keseimbangan berlangsungnya proses fisiologi dalam tubuh, misalnya dengancara mempertahankan tekanan osmosis cairan ekstraselular dan mempertahankan keseimbangan asam dan basa.
Anatomi Ginjal
Bila ginjal dibelah membujur akan tampak bagian kulit (korteks) dan sumsum ginjal (medulla). Setiap ginjal disusun oleh jutaan nefron (alat penyaring) yang terdapat di dalam korteks. Nefron ini berfungsi menyaring darah hingga terbentuk urin.
bagian-bagian nefron adalah badan malpighi yang terdiri dari glomerulus dan kapsula bowman, sedangkan tubulus kontortus terdiri atas tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus kolektivus, dan lengkung henle ascenden (naik) dan descenden (turun).
Dari setiap ginjal keluar saluran yang disebut ureter, yang berfungsi untuk menyalurkan urin ke kandung kemih (Vesica urinaria). Pada pangkal ureter terdapat ruang ginjal atau pelvis renalis yang merupakan tempat bermuaranya tubulus kolektivus. Bila kandung kemih telah penuh, urin akan dikeluarkan melalui saluran yang disebut uretra
Urin dibentuk di nefron yaitu dengan menyaring darah dan kemudian mengambil kembali kedalam darah bahan-bahan yang bermanfaat. Dengan demikian akan tersisa bahan yang berguna, yang nantinya akan keluar dari nefron dalam bentuk suatu larutan yang disebut urin. Sebelum menjadi urin, didalam ginjal akan terjaids 3 macam proses yaitu filtrasi, reabsorbsi, dan augmentasi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jumlah Urin
Banyak sedikitnya urin yang dihasilkan dalam proses ekskresi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
1.      Hormon Anti Diuretik (ADH)
Hormon anti diuretik dihasilkan oleh kelenjar hipofisis posterior. Jika tubuh menghasilkan banyak ADH, maka penyerapan air pada tubulus juga banyak, sehingga volume urin sedikit dan dalam kondisi pekat.
2.      Jumlah air yang diminum
Semakin banyak volume air yang diminum, maka urin yang dihasilkan juga semakin banyak. Disarankan agar setiap hari minum air mineral 6 gelas. Konsumsi air mineral membersihkan racun dalam tubuh yang masuk ke ginjal dan memberi manfaat menjaga kelembapan pada kulit.
3.      Saraf ginjal
Rangsangan pada saraf ginjal akan mengakibatkan penyempitan pada duktus eferen sehingga aliran darah ke glomerulus berkurang dan mengakibatkan proses filtrasi kurang efektif. Kondisi demikian mengakibatkan volume urin yang dihasilkan jumlahnya sedikit. Begitu juga sebaliknya.
4.      Jumlah hormon insulin
Jika hormon insulin jumlahnya sedikit, maka kadar gula dalam darah akan dikeluarkan melalui tubulus distal. Hal ini mengganggu proses enyerapan kembali air sehingga orang tersebut akan lebih banyak mengeluarkan urin.
5.      Minuman alkohol dan kafein
Alkohol dapat menghambat pembentukan ADH. Sehingga jumlah urin yang dikeluarkan akan meningkat.
6.      Suhu lingkungan
Ketika suhu panas, akan banyak mengeluarkan keringat, konsentrasi air dalam darahturun, mengakibatkan sekresi ADH meningkat sehingga urin yang dihasilkan sedikit. Sebaliknya jika suhu dingin, konsentrasi air dalam darah naik sehingga menghalangi sekresi ADH maka produksi urin banyak.
 

Urin (part 1)



PENDAHULUAN

A.     Pengertian Urin
Urin adalah suatu cairan esensial dari hasil metabolisme nitrogen dan sulfur, garam-garam anorganik dan pigmen. Biasanya berwarna kekuning-kuningan, meskipun secara normal banyak variasinya. Mempunyai bau yang khas untuk spesies yang berbeda. Jumlah urin yang diekskresikan tiap harinya bervariasi, tergantung pada pakan, konsumsi air, temperatur lingkungan, musim dan faktor-faktor lainnya. Urin merupakan cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Namun, ada juga beberapa spesies yang menggunakan urin sebagai sarana komunikasi olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui uretra. Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme, garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari darah atau cairan interstisial.
Urin merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Proses pembentukan urine dalam ginjal meliputi proses penyaringan (filtrasi), penyerapan kembali (reabsorbsi), dan penambahan zat – zat (augmentasi). Proses filtrasi terjadi di glomerulus dan kapsula bowman. Dari 1200 ml darah yang melalui glomerulus permenit akan terbentuk filtrat 120 ml permenit Proses reabsorbsi terjadi di tubulus proksimal, dan augmentasi terjadi di tubulus distal. Ginjal kira-kira mengandung 1,3 x 106 nefron yang beroprasi secara paralel. Tiap nefron terdiri dari suatu glomerulus yang dibekali dengan darah dalam sistem kapiler arteri sedemikian sehingga terjadi tekanan filtrasi yang memadai untuk mempengaruhi ultrafiltrasi material berberat molekul rendah dalam plasma.
Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urin selain untuk mengetahui kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan diberbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uterus dan lain-lain.
Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos.
Selain darah, urin juga menjadi komponen yang penting dalam diagnosis keadaan kesehatan seseorang. Ada 3 macam pemeriksaan, antara lain (1) pemeriksaan visual. Urin mengindikasikan kesehatan yang baik bila terlihat bersih. Bila tidak, maka ada masalah dalam tubuh. Kesehatan bermasalah biasanya ditunjukkan oleh kekeruhan, aroma tidak biasa, dan warna abnormal. (2) Tes yang menggunakan kertas kimia yang akan berganti warna bila substansi tertentu terdeteksi atau ada di atas normal. (3) Hasil yang datang dari pemeriksaan mikroskopis yang dilakukan untuk mengetahui apakah kandungan zat yang berada di atas normal atau tidak.

Friday, 25 October 2013

Karbohidrat dan Lipid (part 2)



PEMBAHASAN

ANALISIS KARBOHIDRAT
1.      Uji Molish
      Uji molish merupakan uji umum untuk karbohidrat dan digunakan untuk mengetahui ada tidaknya karbohidrat dalam sampel. Karbohidrat merupakan senyawa yang dapat dihidrasi oleh asam pekat menjadi senyawa furfural atau senyawa furfural yang tersubsitusi seperti hidroksimetil furfural. Pada asam kuat yang pekat monosakarida menghasilkan furfural atau derivatnya. Furfural yang terbentuk akan bereaksi dengan alfa naftol dan membentuk cincin berwarna ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil furfural dengan alfa naftol.
      Dari percobaan tersebut dihasilkan adanya cincin ungu pada larutan glukosa, sukrosa, dan pati. Sedangkan pada larutan mentega dan putih telur, tidak menghasilkan cincin warna ungu.

2.      Uji Benedict
Dari percobaan diatas dihasilkan larutan glukosa dan fruktosa menghasilkan endapan warna hijau. Sedangkan, larutan sukrosa, amilum dan laktosa tidak menghasilkan endapan warna hijau melainkan tetap berwarna biru. Hal ini disebabkan karena larutan glukosa mengandung aldehid.
Fruktosa memiliki sifat mereduksi karena memiliki gugus alpha yang mehidroksi  keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa. suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict yaitu menghasilkan warna hijau.
Sedangkan larutan sukrosa, laktosa dan amilum tidak mengandung sifat merduksi karena dari hasil percobaan bahwa larutan sukrosa, laktosa, dan amilum tidak menghasilkan endapan warna hijau.



3.      Uji Barfoed
Uji ini digunakan untuk mendeteksi monosakarida yang terdapat dalam disakarida. Pereaksi barfoed dapat bereaksi positif dengan karbohidrat yang memiliki gula pereduksi dan pada suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula pereduksi monosakarida daripada disakarida, sehingga menghasilkan (kupro oksida) CuO2 berwarna merah bata.
4.      Uji Fehling
Prinsip uji fehling sama dengan uji barfoed dan uji benedict yaitu menggunakan gugus aldehid pada gula untuk mereduksi senyawa (kupro sulfat) Cu2SO4 menjadi Cu2O (endapan merah bata) setelah dipanaskan sesudah dipanaskan dalam suasana basa.
5.      Uji Seliwanof
Dari percobaan diatas dihasilkan larutan fruktosa dan sukrosa menghasilkan perubahan warna larutan menjadi merah. Sedangkan pada larutan laktosa terjadi perubahan warna menjadi jingga cerah, dan pada larutan glukosa terjadi larutan bening agak kekuningan.
Pemanasan dan penambahan alkohol akan mengakibatkan terdehidrasinya fruktosa menjadi hidroksimetilfurfural yang bereaksi dengan resorsinol yang terdapat di dalam Reagen Seliwanof. Resorsinol akan bereaksi dengan hidroksimetilfurfural yang terbentuk dari reaksi gugus keton dengan selliwanof. Gugus keton tersebut berasal dari fruktosa. Sedangkan di dalam glukosa tidak terdapat keton, melainkan aldehid. Oleh karena itu pada tabung berisi glukosa tidak terjadi perubahan warna karena dengan tidak adanya gugus keton, maka resorsinol tidak bereaksi dan tidak terjadi senyawa yang berwarna merah.
Pada sukrosa, proses pemanasan dan suasana asam menyebabkan sukrosa terhidrolisis menjadi fruktosa dan glukosa dimana fruktosa mempunyai gugus keton yang bereaksi dengan uji selliwanof. Sedangkan pada tabung yang diisi laktosa meski terjadi hidrolisis namun laktosa merupakan polisakarida yang merupakan gabungan dari galaktosa+glukosa dan tidak mempunyai gugus keton.




6.      Uji Iod
Larutan pati akan berekasi dengan iod membentuk warna biru karena iod masuk kedalam kumparan molekul pati. Senyawa ini hanya stabil dalam larutan dingin. Pada pemanasan warna biru akan hilang karena molekul pati merenggang sehingga iod akan lepas dari kumparan pati, tapi akan kembali menjadi biru jika didinginkan. Amilosa akan memberikan warna yang lebih biru jika dibandingkan dengan menarik air amilopektin.
7.      Presipitasi Polisakarida
      Alkohol bersifat bisa menarik air, sehingga bersifat presipitas


ANALISIS LIPID
1.      Kelarutan Lemak dan Asam Lemak
Senyawa golongan lipid mempunyai sifat kelarutan yang berbeda. Lipid larut dalam pelarut organik non polar dan pelarut polar yang dipanaskan. Sifat ini digunakan untuk mengekstrasi dan mengisolasi lipid dari berbagai bahan biologis. Hampir semua jenis lipid, yaitu lemak dan minyak tidak larut dalam pelarut polar seperti air, namun larut dalam pelarut non polar seperti kloroform. Asam oleat dan gliserol larut dalam air maupun alkohol. Hal ini disebabkan karena pada gliserol dan asam oleat mempunyai kepala polar berupa gugus -OH yang dapat berikatan hidrogen dengan molekul air ataupun alkohol. Lemak hewan dan minyak kelapa tengik dapat terdispersi menjadi misel yang megubah asam-asam lemak penyusunnya menjadi sabun.
2.      Uji Akrolein
Lemak akan terhidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol. Gliserol lebih cepat tengik daripada minyak karena gliserol mengalami dehidrasi menjadi akrolein, sedangkan asam lemak akan mengalami oksidasi menjadi keton dan aldehida. Minyak kelapa harus mengalami hidrolisis terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan dasar teori yang digunakan menurut Riawan (1990) yang menyatakan bahwa penyebab ketengikan antara lain adanya auto-oksidasi, hidrolisis dan kegiatan bakteri (jasad renik).
Pada hasil uji akrolein, gliserol dalam bentuk bebas atau yang terdapat dalam lemak/minyak akan mengalami dehidrasi membentuk aldehid akrilat atau akrolein. Senyawa pendehidrasi dalam uji ini adalah KHSO4 yang menarik molekul air dari gliserol. Pada teorinya, hanya gliserol dalam bentuk bebas atau yang terikat berupa senyawa yang akan membentuk akrolein aldehida





3.      Uji Saponin
Uji ini digunakan untuk menentukan adanya saponin dalam suatiu bahan dengan terbentuknya sabun/busa. Bila lipid dipanaskan dalam alkali akan terlepas asam lemak dan gliserol. Alkali berikatan ester dengan sam lemak membentuk sabun yang berbusa bila dikocok dengan air. Bilangan penyabunan adalan jumlah miligran KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak hasil hidrolisis dari satu gram lipid.

4.      Uji Ketidakjenuhan (IOD)
Reaksi ini digunakan untik menentukan ikatan rangkap dalam suatu bahan atau asam lemak. Iod akan mengadisi ikatan rangkap sehingga warna pereaksi tidak terlihat.

5.      Uji Liebermann-Burchad
Kolestrol akan larut dalm kloroform dan bereksi dengan asam kuat membentuk kompleks warna.





DAFTAR PUSTAKA

Bintang, Maria. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta: Erlangga



Wednesday, 9 October 2013

Karbohidrat dan Lipid (part 1)



1.      Analisis Karbohidrat
Karbohidrat merupakan senyawa karbon polihidroksi aldehid atau keton atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini bila dihidrolisa. Terdapat tiga golongan utama karbohidrat: monosakarida, oligosakarida dan polisakarida (sakarida berarti gula).
Monosakarida atau gula sederhana, terdiri dari hanya satu unit polihidroksi aldehid atau keton. Monosakarida dapat mereduksi senyawa-senyawa pengoksidasi seperti ferisianida, hidrogen peroksida atau ion kupri (Cu2+). Pada reaksi tersebut, gula dioksidasi pada gugus karbonil dan senyawa pengoksidasi menjadi tereduksi. Glukosa dan gula-gula lainnya yang mampu mereduksi senyawa pengoksidasi disebut gula pereduksi. Sifat ini berguna dalam analisa gula.
Oligosakarida terdiri dari rantai pendek unit monosakarida, diantaranya yang paling banyak adalah disakarida. Disakarida terdiri dari dua monosakarida yang digabungkan melalui ikatan glikosida. Ikatan tesebut mudah terhidrolisa oleh asam tetapi tahan terhadap basa. Disakarida banyak terdapat di alam, yang paling umum adalah sukrosa, laktosa, dan maltosa.
Polisakarida terdiri dari rantai panjang yang mempunyai ratusan atau ribuan unit monosakarida. Polisakarida yang paling banyak dijumpai pada dunia tanama adalah pati dan selulosa, sedangkan di dunia hewan, terdapat glikogen. Pati dan glikogen adalah polisakarida penyimpan yang penting di alam, sedangkan selulosa adalah polisakarida struktural yang paling banyak.
Uji kualitatif dapat dilakukan untuk mengetahui keberadaan atau jenis karbohidrat dalam suatu bahan, sedangkan uji kuantitatif dapat dilakukan untuk mengetahui jumlah kandungan karbohidrat dalam suatu bahan.
Karbohidrat merupakan makanan pokok yang paling penting sebagai sumber energi. Karbohidrat dimulut mengalami proses biokimia hidrolisis dengan bantuan bikatalis enzim amilase.
2.   Analisis Lipid
            Lipid adalah senyawa oraganik berminyak atau berlemak dengan sifat umum relatif tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut non polar, seperti kloroform atau eter. Lipid netral seperti triasilgliserol, wax, dan lain lain dapat diekstraksi dari sel dan jaringan menggunakan pelarut organik seperti kloroform, benzena, eter. Ekstraksi lipid membran lebih efektif bila menggunakan pelarut organik polar seperti etanol atau metanol.
Jenis lipid yang paling banyak adalah lemak atau triasilgliserol, yang merupakan bahan bakar utama bagi hampir semua organisme. Lemak disimpan dalam jaringan adiposa, yang befungsi sebagai insulator panas. Lipid non polar berperan sebagai insulator listrik, sehingga memungkinkan depolarisasi sel saraf bermielin. Pada suhu ruang lipid berbentuk padat yang disebut lemak, dan lipid yang berbentuk cair disebut minyak.
Pada umumnya lemak bila dibiarkan lama di udara akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak, karena mengalami proses hidrolisis yang menghasilkan asam lemak bebas. Asam lemak di alam sebagian berikatan ester dengan komponen yang lain, terutama dalam bentuk lemak dan minyak, sangat sedikit dalam bentuk asam lemak bebas.
Asam lemak pembentuk lipid terbagi atas dua kelompok yaitu asam lemak jenuh yang tidak memiliki ikatan rangkap (contohnya asam laurat, asam miristat, asam palmitat, dan asam stearat) dan asam lemak tidak jenuh yang memiliki ikatan rangkap (contohnya asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dan asam arakidonat). Proses oksidasi terhadap asam lemak tidak jenuh akan menambah bau dan rasa yang tidak enak. Kelarutan asam lemak dalam pelarut organik tergantung jumlah atom C asam lemaknya dan jumlah ikatan rangkap. Makin banyak ikatan rangkap makin mudah larut dalam air.

      Asam lemak dapat bereaksi dengan basa, membentuk garam. Garam natrium atau kalium yang    dihasilkan oleh asam lemak dapat larut dalam air dan dikenal sebagai sabun (Reaksi penyabunan). Sabun kalium disebut sabun lunak dan digunakan sebagai sabun bayi. Asam lemak yang digunakan untuk sabun umumnya adalah asam palmitat atau asam stearat. Dalam industri, sabun tidak dibuat dari asam lemak tetapi langsung dari minyak yang berasal dari tumbuhan.

Friday, 23 August 2013

Darah (part 3)




LAMPIRAN

1.         Jelaskan fungsi darah dalam kehidupan!
Fungsi Darah
a.   Fungsi Respirasi
                        Darah ikut berperan mengikat ok­sigen dan karbon dioksida. Untuk mengikat oksigen dan karbondioksida ini tersedia sel darah merah dan plasma serta enzim yang mampu mengubah molekul H2O + CO2, menjadi asam karbonat atau H2CO3 yang kemudian terionisasi menjadi H+ dan HCO3 (bikarbonat).
 b.  Fungsi nutrisi
Darah mengalir dalam sistem kardiovaskular bahkan memasuki kapiler kecil di ujung-­ujung jaringan memasok kebutuhan nutrisi sel-sel.
   c. Fungsi ekskresi
              Sampah metabolik dikeluarkan dari dalam sel kemudian diangkut oleh darah ke organ-organ ekskresi.
    d.  Fungsi penyeimbang asam-basa tubuh
Keseimbangan asam-basa normal terjadi karena proses meta­bolisme yang mendasari semua fungsi fisologis berlangsung secara optimal dengan laju dan besaran yang terkendali. Semua perubahan yang terjadi dalam sel dapat diteruskan ke ling­kungan ekstrasel yang selanjutnya berinteraksi dengan darah. Darah yang juga menjangkau organ-organ ekskresi selanjutnya akan mem­buang elektrolit yang mengganggu keseimbangan asam-basa
 e. Fungsi Penyeimbang air tubuh
 f.   Fungsi pengaturan suhu tubuh.
Pada keadaan demam ; pembuluh darah yang melebar dapat dilalui lebih banyak darah. Darah yang banyak ini mengalir ke daerah di bawah kulit yang banyak me­ngandung kelenjar keringat untuk menghasilkan lebih banyak ke­ringat untuk membuang panas. Dan sebaliknya bila terjadi penurunan suhu lingkungan.
 g.  Fungsi Koagulasi
Pada keadaan normal, terbentuknya gumpalan darah selan­jutnya diikuti dengan penghancuran gumpalan atau trombolisis.

2.         Jelaskan perbedaan serum dengan plasma!
Perbedaan serum dan plasma darah terletak pada ada tidaknya sistem pembekuan darah. Plasma mengandung sistem pembekuan darah, sedangkan serum tidak. Serum komposisinya hampir sama dengan plasma. Perbedaannya adalah pada serum :
·         Tidak mengandung fibrinogen
·         Tidak mengandung faktor pembekuan (faktor II, V dan VIII)
·         Mengandung serotonin tinggi karena adanya perusakan pada platelet

3.         Apakah fungsi protein plasma?  Berikan contoh protein plasma yang saudara ketahui!
Fungsi protein plasma :
1.   Keseimbangan osmotik
      a.Hiperalbumin:       peningkatan kadar albumin. Dijumpai pada dehidrasi terjadi hemokonsentrasi protein plasma
      b.Hipoalbumin:       Dijumpai pada malnutrisi, malabsorbsi, hepatitis akut, penyakit hati menahun, dansebagainya.
2.   Pembentukan dan nutrisi jaringan enzim, hormone, pembekuan darah ( fibrinogen, AT III ) dan jaringan tubuh
3.   Transportasia
               a.   Umum yaitu albumin
               b.   Khusus :
                     Hormon   : prealbumin
                     Vitamin    : Prealbumin
                     Lipid       : Lipoprotein
                     Co          : Ceruloplasmin
                     Hb          : Haptoglobin
                     Heme      : Hemopexin
                     Fe           : Transferin
4.   Daya tahan tubuh (Asscalbiass,2010)
Contoh-contoh dari protein-protein plasma :
1. Albumin
2. Globulin
3. Fibrinogen albumin

4.         Jelaskan faktor-faktor yang dapat menyebabkan hemolisis eritrosit!

5.         Jelaskan masalah medis yang timbul akibat turunnya fragilitas globular!
PENURUNAN FRAGILITAS : Talasemia mayor dan minor (anemia Mediterania atau anemia Cooley), anemia (defisiensi besi, defisiensi asam folat, defisiensi vit B6, sel sabit), penyakit hemoglobin C, polisitemia vera, post splenektomi, nekrosis hati akut dan sub akut, ikterik obstruktif.

6.         Apakah hemoglobin itu, jelaskan fungsinya!
Hemoglobin merupakan protein tetramer yang dapat mengikat 4 atom oksigen per tetramer (satu pada tiap subunit hem), atom oksigen terikat pada atom Fe2+, yang terdapat pada hem, pada ikatan koordinasi ke 5.
Hemoglobin di dalam darah membawa oksigen dari paru - paru ke seluruhjaringan tubuh dan membawa kembali karbondioksida dari seluruh sel ke paru-paru untuk dikeluarkan dari tubuh. Mioglobin berperan sebagai reservoir oksigen : menerima, menyimpan dan melepas oksigen di dalam sel-sel otot. Sebanyak kurang lebih 80% besi tubuh berada di dalam hemoglobin (Sunita, 2001).
Menurut Depkes RI adapun guna hemoglobin antara lain :
1.Mengatur pertukaran oksigen dengan karbondioksida di dalam jaringan-jaringan tubuh.
2.Mengambil oksigen dari paru-paru kemudian dibawa ke seluruh jaringan-jaringan tubuh untuk dipakai sebagai bahan bakar.
3.Membawa karbondioksida dari jaringan-jaringan tubuh sebagai hasil metabolisme ke paru-paru untuk di buang, untuk mengetahui apakah seseorang itu kekurangan darah atau tidak, dapat diketahui dengan pengukuran kadar hemoglobin. Penurunan kadar hemoglobin dari normal berarti kekurangan darah yang disebut anemia (Widayanti, 2008).

DAFTAR PUSTAKA

Salam, Abdul., M. Sofro. 2012. Darah. Yogya: Pustaka Pelajar
Asscalbiass. 2010.Buku Petunjuk Praktikum Biokimia Kedokteran Blok Digetive. Purwokerto: FK UNSOED
Baradero, M., Marry, W.D., Yakobus, S. 2009. Seri Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Endokrin. Jakarta : EGC
Mahendra, Krisnatuti D, Tobing A, Boy. 2008. Care Your Self Diabetes Mellitus. Jakarta: Penebar Plus.
Riyadi, Sujono., Sukarmin. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Eksokrin dan Endokrin pada Pankreas. Yogyakarta: Graha Ilmu
Schwartz, M.William. 2004. Pedoman Klinis Pediatri (Alih Bahasa).Jakarta: EGC
Chien PC, Trishman WH. 2003. Lipid Disorder In Current Diagnosis and Tretment In Cardiology, 2nd Second Edition, ed. Crawford. New york: Lange Medical Book
Corwin, Elizabeth J. 2001. Buku Ssku Patofisiologi (hands book of pathophysiologi). Jakarta: EGC
Sadikin, Mohamad. 2001. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medika
Almetsier, Sunita. 2001.Prinsipdasar ilmu gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Girindra, Aisjah. 1986. Biokimia 1. Jakarta: Gramedia

Saturday, 17 August 2013

Darah (part 2)



BAB V
KASUS
1.      Seorang wanita gemuk usia 50 tahun datang ke suatu klinik kesehatan, dengan keluhan haus yang berlebihan, banyak minum, dan sering buang air kecil. Sebelumnya tidak pernah ada keluhan medis dan sudah lama tidak kedokter. Hasil pemeriksaan fisik, umumnya normal, dan dokter mengatakan bahwa wanita tersebut tidak dalam kondisi sakit akut. Urinalis menunjukkan glukosa meningkat dan kadar glukosa serum sewaktu adalah 320 mg/dL. Menurut saudara:
         - Penyakit apakah yang dialami wanita tersebut?
         - Sistem organ apakah yang terlibat dalam penyakit tersebut?
         - Apakah dasar biokimia dari penyakit tersebut?
2.      Pemeriksaan kadar kolesterol darah seseorang penderita berumur 55 tahun dilakukan di suatu klinik. Analisis berdasarkan reaksi berikut:
Cholerterol esters + H2O -> cholesterol + fatty acids
Cholesterol + O2 -> cholest-4-ene-3-one +H2O2
H2O2 + phenol + 4-aminoantipyrine -> quinoneimine chromogen     λmax = 510 nm
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Terbaru             Tabel 2. HasilPemeriksaan Sebelumnya
Tabung
A510(x)
A510(s)
 1
0,825
0,195
2
0,890
0,214
3
0,876
0,202
Tabung
A510(x)
A510(s)
1
0,600
0,301
2
0,580
0,214
3
0,760
0,202

Cholesterol concentration (mg/100 mL) =

Keterangan = x = sampel, s = kolesterol standar, Cs = konsentrasi kolesterol standar (100mg/100mL)
Tabel 3. Average total human serum cholesterol levels as afunction of age
Age years
Total cholesterol (mg/1oomL serum)
0 – 19
120 -230
20 – 29
120 – 240
30 – 39
140 – 270
40 – 49
150 – 310
50 - 59
160 - 330
Menurut saudara:
a)      Apakah penderita tersebut mengalami hypercholesterolemia? Jelaskan perubahan kadar kolesterol antara dua pemeriksaan tersebut?
b)      Jelaskan korelasi kadarkolesteroldengan “heart disease”!
c)      Apakah adahubungan antarahypercholesterolemia denganpenyakit batu empedu? Jelaskan alasannya!
d)      Apakah dasar biokimia dari pertanyaan c?
3.      Seorang anakberusia 1 tahun, dia ke IRD, karena mual, muntah dan sakit perut selama 2 hari. Tes laboratorium, kadar trigliserida, amylase, dan lipase serumnya tinggi, sedangkan aktivitas lipoprotein lipasenya turun. Riwayat keluaarga, dari keluarga ibunya, ada beberapa yang menderita sakit jantung sejak dini.
Menurut saudara:
a)      Apakah dugaan penyakit yang dialami anak tersebut? Jelaskan berdasarkan datayang ada!
b)      Apakah kelainan biokimia yang menndasari?
c)      Apakah peran lipoproteinlipase?
d)      Apakah yang menyebabkan hypertrigliseridemia?
4.      Hasil pemeriksaan laboratorium pasien DM tipe I yang tidakterkontrol menunjukkan hiperglikemia (634mg/dL)dan hipertrigliseridemia (498mg/dL)
a)      Apakah kelainanbiokimia yang mendasari?
b)      Mengapa penderita DM bias mengalami hipertrigliseridemia?

BAB VI
JAWABAN KASUS


1.      a) Wanita tersebut menderita penyakit diabetes mellitus
b)   Sistem organ yang terlibat adalah pancreas
c)    Dasar biokimia:
Kadar glukosa serum saat itu diatas 200mg/dL adalah termasuk kadar glukosa yang tinggi, sedangkan pada wanita tersebut, kadar glukosa serum 320mg/dL, maka wanita tersebut mengidap penyakit diabetes mellitus.
Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit dimana kadar glukosa tinggi dalam darah karena pancreas tidak dapat melepaskan atau mengguanakan insulin dengan tepat.

  1. Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Terbaru             Tabel 2. HasilPemeriksaan Sebelumnya
Tabung
A510(x)
A510(s)
 1
0,825
0,195
2
0,890
0,214
3
0,876
0,202
Rata-rata
423,7/100mL
Tabung
A510(x)
A510(s)
1
0,600
0,301
2
0,580
0,214
3
0,760
0,202
Rata-rata
282/100mL

a)      Ya, dari data pasien berumur 55 tahun, kadar normal kolesterolnya berkisar 160 – 330mg/100mL. berdasarkan pemeriksaan sebelumnya, rata-rata konsentrasi kolesterol 282mg/100mL, yang berarti masih dalam batas normal. Akan tetapi pada pemeriksaan terbaru, rata-rata konsentrasi kolesterol 423,7mg/dL yang berarti melebihi batas normal kadar kolesterol.
b)      Dasar hypercholesterolemia diidentifikasikan suatu ddefisiensi reseptor LDL, karena tidakadanya membrane reseptor, masuknya kompleks kolesterol LDL kedalamsel terganggu. Akibatnya kehilangan pengaturan normal sintesis kolesterol, yang dapat menimbulkan kadar kolesterol plasma yang tinggi dan permulaan aterosklerosis dengan pembentukan plak pada dinding bagian dalam pembuluh darah.
c)      Ada, karena kolesterol menghasilkan metabolit berupa garam empedu
d)      Garam empedu merupakan metabolit kolesterol untuk pencernaan normal dari lemak.mereka merupakan molekul amfiotik dalam usus kecil untuk melarutkan makanan, sekitar 80%dariempedu. Pada kasus ini,pasien terjadi hypercholesterolemia, kolesterol yang tinggi menyebabkan produksi metabolitnya juga semakin tinggi yaitu garam empedu.sehingga garam empedu banyak yang menumpuk pada kantong empedu dan mengalami pemadatan hingga menjadi batu empedu.
3.      Hipertrigliseridemia
a)        Karena pada hasil tes, kadar trigliseridanya meningkat, sedangkan lipoprotein lipasenya menurun. Padahal lipoprotein lipase bertugas untuk memecah trigliserida menjadi asam lemak gliserol
b)        Kelainan karena lipoprotein lipase merupakan jenis enzim lipase yang mempercepat proses reaksi hidrolisis pada trigliserida, sehingga jika lipoprotein lipase turun, proses hidrolisis trigliserida terhambat. Trigliserida dapat dipecah menjadi asam lemak dan gliserol.
c)         Peran lipoprotein lipase yaitu untuk memecah trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol
d)        Faktor-faktor hipertrigliseridemia:
-       Berat badan yang berlebihan (obesitas)
-       Kurang beraktifitas
-       Mengkonsumsimakanan yang mengandung karbohidrat dan lemak jenuh secara berlebih
-       Adanya penyakit ginjal/hati
-       Penyakit kencing manis
-       Faktor keturunan (genetic), sulit diatasi kaerna reseptor didalam sel-sel hati yang bertugas untuk mengubah trigliserida yang berlebih menjadi kolesterol sudah mengalami cacat bawaan.
  1. Hiperglikemia
a)      Kelainan hiperglikemia: kekurangan insulibn yang memegang peranpenting,pengangkutan pankrean,kerusakan sel beta,sellangerhans, factor hereditas.
b)      Hiperglikemia adalah tingginya kadar glukosa dalam darah karena perusakan pada sel beta pankres, sehingga sekresi insulin terhambat atau karena reseptor insulin tidakbekerja.
c)      Pada diabetes melitus:
Tipe I: Terjadi karena kerusakan sel beta pancreas, defisiensi insulin akan menghambat lipoprotein lipase sehingga meningkatnya trigliserida dan kolesterol.
Tipe II:    karena resistensi insulin perifer. Manifestasi: dislipidemianya ialah meningkatnya LDL, trigliserida dan menurunnya HDL. Makin resistensi insulin, makin meningkat sintesis trigliserida dan VLDL di hati, sehingga trigliserida semakin meningkat, mengakibatkan hipertrigliseridemia.